Aku bukan artis pembuat berita Tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa

Aku bukan artis pembuat berita

Tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa

………………

Kata-kata itu selalu menagih

Padaku ia selalu berkata

Kau masih hidup

 

Aku memang masih utuh

Dan kata-kata belum binasa

(Wiji Tukul)

 

Menulislah, biar kau tidak hilang dari pusaran sejarah, senada dengan puisi diatas, kalimat itu di utarakan oleh penulis besar yang pernah dimiliki oleh bangsa ini, dialah Pramudya Ananta Toer, seorang sastrawan cum sejarawan yang terlupakan dan dibenci oleh rezim penguasa, tetapi sangat dipuja dan dikagumi oleh anak-anak muda yang geram akan ketimpangan atas bangsa ini. maka seringlah ia dikutip, dibaca, serta menjadi inspirasi gerakan sosial. Lewat karya Pram tetralogi pulau buru, ia menceritakan sejarah nasional kemerdekaan dengan pergumulan seorang pemuda yang bernama Minke, ya. Bagi para penggemar Pram, semua sudah tahu siapa tokoh Minke itu, dialah sang pemula atau dialah Tirto.

Mengapa dia digelar sebagai sang pemula? Tentunya bagi para pembaca tetralogi buru sudah tahu itu, kalau minke lah pribumi terpelajar sebagai pelopor generasi dan bangsanya untuk membuat koran pribumi pertama yang berbahasa melayu yang ditujukan untuk membangkitkan mentalitas bangsa terjajah agar setara dengan bangsa eropa kolonial penjajah.

Dan akhirnya, zaman minke telah lama berlalu. Akan tetapi tidak berlebihan kalau dikatakan ceritanya masih sangat relevan untuk zaman ini, dengan meminjam semangat anti kolonial dan perjuangan untuk kesetaraan antar bangsa yang dijajah dengan bangsa yang menjajah. Kalau anda mengatakan kita masih terjajah sekarang ini, maka jawabnya .. ya. Masih dengan watak, cara, sistem yang sama hanya pakaian yang berubah dan warna nya pun kini beranekaragam. Ya, musuh itu tetap bernama KAPITALISME.

Akan tetapi musuh besar itu masih terlalu abstrak untuk diketahui, pada kesempatan kali ini, kami berupaya melihat dan menemukenali cara bekerja kapitalisme dengan modus merampas dan mengusir setiap manusia dari tanah yang menjadi sarana untuk berproduksi, Karl Marx menyebutnya dengan teori akumulasi primitif. petani dari sawahnya dari kebunnya, dan buruh dan pekerja dari tempat tinggalnya. Lantas, lahan yang tadinya sawah berubah jadi perumahan mewah, pemukiman warga disulap menjadi mall,ruko dan real estate. Bukan hanya itu yang dirubah kemudian, tetapi yang paling berbahaya adalah cara kita berhubungan (relasi sosial,red) dengan yang lain juga dirubah, semuanya kini harus diperantarai oleh uang/modal. Dan inilah yang bekerja disemua tempat, dikampung-kampung, dikota, dikampus bahkan di dalam watak kita, dengan cara yang sama namun mekanisme yang berbeda-beda.

Dengan semangat itu buletin ini terbit, sederhana tapi sarat makna, jauh dari profesional namun mendekati vokasional, kurang teori tapi berdasar pengamatan lapangan. Namun yang pasti, kehadiran kami untuk menguji sekaligus menggugat bahwa perlawanan bukan hanya dengan retorika namun ia mesti dipertautkan dengan scripta, pesona agitasi dengan guratan tulisan, dua kemampuan itu harus saling terikat dan menjadi simpul yang menopang gerakan. Karena yang terutama adalah membangkitkan kesadaran massa untuk bersama dalam wujud perlawanan, tidak ada kegelapan yang tidak bisa ditembus oleh cahaya. Keyakinan pada gerakan dan organisasi massa akan menjadi suluh yang menuntun kepada perubahan.  seperti tulis Pram “ …….pada kalian aku berpesan, hendaknya ia jangan dilupakan. Dialah sang pemula, karena dialah orang pertama-tama yang menyuluhi bangsanya dan memimpin kalian….belum pernah dalam seratus tahun ini seorang pribumi karena kepribadiannya, kemauan baik dan pengetahuaanya, dapat mempersatukan ribuan orang tanpa mengatasnamakan raja, nabi, wali, tokoh wayang, atau iblis”.  

 

 

Akhhirul kalam,Selamat Membaca…!!!

 

Imam el`hak

Lelucon

Lelucon

 

Asmara indah bagaikan bunga tak redup harumnya

Jatuh cinta tak terasa jika badai pun datang menghantam

Lelucon pendek di anatra dua insan yang sedang terajut

Beginilah kisahnya yang terdengar di antara kita dan kalian.

 

Bicara masalah lelucon itu,

Teruslah tertawa terbahak-bahak dengan lelucon itu

Seiring zaman berganti,

Tetap terbukti alunan lelucon itu tak pernah tergantikan

Tak di dustai, banyak yang suka banyak yang bahagia.

 

Kau tahu, kawan!!

Sampai detik-detik ini,

Teriakan-teriakan di sana tak pernah enyah

Hingga tahun-ketahun bergulir, dengan janji-janji para penguasa

Teriakan demi teriakan terus bertambah, terus terdengar semakin keras,

Semakin keras.

 

Apa yang bias kami lakukan. Apa yang dapat kami perbuat.

Apakah itu. Apakah lelucon itu dapat mengobati kisah-kisah mereka.

Apakah lelucon indah bagaikan bunga yang tak pernah redup harimnya itu.

Apakah kami dapat mengobati tangisan, teriakan, ratapan mereka.

Apakah biasa. Dengan lelucon itu. Apakah yang kami lakukan dengan lelucon itu.

 

Tuhan ku, tuhan ku. Hamba mu ini sedang turun ke jalan.

Tuhan ku, yang tak lelah dan berhenti mendengar dan melihat hamba mu ini

Hambamu ini marah dengan ketidak tahuan kemarahan ini akan hal apa.

Tuhan ku, tuhan kami.

Masihkah suara kami dapat melumpuhkan para penguasa jahannam itu.

Lelucon itu ada, dan amarah kami pun ada.

Dan kami tau, akan buaian lelucon itu.

Dan kami tau, lelucon itu hanyalah hal kecil yang menghalang amarah ini.

Dan kami mengakui, lelucon yang sering kami nikmati.

Akan lebih berbahaya untuk para penguasa,

Bila lelucon ini berisi cairan racun pelumpuh para penguasa jahannam.

‘Tetaplah Bersatu Kawan’ ‘Karna Revolusi Mu, Belum Berakhir’.

 Solikin mar’i

Kita, yang mahasiswa..!! & Mereka yang tidak makan dan sekolah.!!?

 Gambar

By; Solikin Mar’i

 

Apa kita pernah berfikir tentang mereka yang ada di sekitar kita? Dan siapa mereka yang ada di sekitar kita? Apa guna kita untuk mereka? Terkadang memang hal seperti ini selalu menjadi tidak bermasalah. Apa kita cukup merasa bahwa kitalah manusia politik dan manusia sosial. Persoalan pendidikan, cukup bangga memang jika kita perlu menyombongkan diri kita sebagai layaknya seorang pelajar atau seorang yang mampu bersekolah sampai tingkat perguruan tinggi. Dan apakah sebenarnya yang dapat kita lakukan ketika kita lulus dari sekolah. Ketika sesuatu yang kita cita-citakan itu dapat kita raih. Anggapan kita sebagai pelajar yang memimpikan mendapat gelar sarjana, cukup benar-benar bangga akan hal itu, ketika hal itu tercapai.

Tapi, Disini saya tidak akan berceloteh tentang kebanggaan itu. Ataupun berdongeng tentang mahalnya biaya pendidikan yang saya dapatkan, tetapi dengan mudah saya dapat membiayainya. Akan tetapi, Sebagai manusia yang terlahir dalam keadaan tak berpakain dan tak berperhiasan. Dengan keadaan yang sama seperti mereka, keadaan yang dapat saya rasakan ketika saya di posisi mereka.

Kadang-kadang kita berfikir tentang mereka dan sesekali mereka di ucapkan dengan apa dan ciri-ciri mereka. Tapi itu sebatas dalam forum diskusi dan dalam presentasi makalah saja, tidak benar-benar dapat di buktikan jika mahasiswa yang ada sekarang berfikir tenteng mereka. Banyak dari kalangan mahasiswa justru hanya sesekali dan sesaat berfikir tentang mereka. Padahal tidak sedikit dari mahasiswa itu adalah orang-orang yang dari kampung atau orang-orang yang biaya kuliahnya hanya di dapat dari Beasiswa atau mungkin orang miskin yang mendapat santunan dari orang lain untuk dapat melanjutkan pendidikannya. Tapi semoga saja bukan dari kalangan orang-orang ini yang tidak benar-benar memikirkan tentang mereka atau yang hanya sesaat dan sesekali memikirkan mereka.

Tidak heran jika hal ini sering kita dapatkan di kampus-kampus, mungkin dari sisi kampusnya yang punya relasi silaturahmi dengan kapitalis atau mungkin kampusnya yang selalu mendidik mahasiswa-mahasiswinya agar menjadi pelajar yang berintelektualkan bungkam. Tapi sebenarnya pendidikan itu selalu mengajarkan kita untuk dapat kembali ke masyarakat dan bersosialisasi kepada lingkungan, orang miskin, anak yatim-piatu, atau mereka-mereka yang terpingirkan.

Kita kembali pada relasi, Mahasiswa yang sejatinya adalah orang-orang yang berfikir dan karna itu sesungguhnya apakah pemikiran mahasiswa sampai kepada mereka-mereka yang tidur, makan dan sampai urusan cari uang, selalu di jalanan. Kalau berbicara relasi, kaum pemodal dan kaum miskin itu benar-benar punya relasi sebab dan akibatnya.

Saat ini pendidikan memang benar-benar melepaskan kita kepada status kita sebenarnya sebagai mahasiswa yang punya peranan penting bagi mereka, dan yang terjadi saat ini mahasiswa hanya di cetak sebagai penjilat dan penggaruk pantat kaum pemodal. Yang sebenarnya pemodal yang serakah itulah musuh kita yang harus kita lawan. Dan benar-benar kesengajaan pihak pendidik yang punya sistem murni kapitalis kemudian dengan sengaja melepaskan kita kepada status kita sebagai mahasiswa yang utuh dan sesungguh-sungguhnya mahasiswa yang bebas akan ketertindasan, pembodohan, dan pembungkaman.

Karna sesungguhnya kitalah sebagai mahasiswa yang harus membebaskan mereka dari sistem kapitalis di negri ini. tentunya dengan pendidikan yang tidak fasis.

Sejakala Kapital di Jalan Raya

Sejakala Kapital di Jalan Raya

Oleh: Radamel Falcao

 

 

 

Pada tahun 1888, dipimpin oleh KH Wasid dari Beji, pemberontak menyusuri jalan raya antara Serang-Anyer menuju pusat sasaran: Cilegon. Tempat bermukim pejabat-pejabat kolonial dan para ambtenaar-nya. Pemberontakan petani Banten meledak! Korban berjatuhan. Menurut kabar, jumlah korban meninggal 17 orang termasuk di antaranya asisten residen, para pejabat Belanda lainnya, wedana dan ajun kontrolir.

(Sartono Kartodirjo; 2005)

Apa makna pemberontakan petani Banten ini bagi nasionalisme Indonesia? Bagi Sartono Kartodirjo makna pemberontakan ini tidaklah kecil bagi nasionalisme Indonesia yang terbentuk kemudian. Ini semacam proto-nasionalisme yang ‘bersuara’ menentang argumentasi ‘pax nederlandica’ yang dibangun oleh kolonial. Bahwa pribumi tidak menerima penjajahan ini! Bahwa Hindia tidaklah bulat-bulat menjadi bagian dari negara kesatuan ’Belanda raya’.

Tulisan kecil ini tidak hendak menjelaskan kebangkitan nasionalisme dan pergerakan yang mengiringinya. Tetapi ingin memperlihatkan bahwa dalam pemberontakan tersebut instrumen modern kapital paling vital di negara jajahan: jalan raya, jalan raya Deandels yang monumental itu, telah dimanfaatkan oleh rakyat negeri koloni tidak untuk maksud yang dikehendaki oleh kekuasaan kolonial perencananya, tapi untuk menantang kekuasaannya.

Memang benarlah adanya. Para petani Banten ini telah mensubversi jalan raya, yang sejak semula dikehendaki untuk kepentingan keberlangsungan kekuasaan kolonial di Hindia, dengan memanfaatkannya untuk kepentingan menentang kekuasaan kolonial. Dan kejadian ini tepat terjadi di lokasi yang disusuri oleh jalan raya pos, jalan raya prestisius itu. Jalan ini membentang di barat pulau Jawa dari Anyer, (sekarang masuk wilayah administratif provinsi Banten) hingga Panarukan, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Jalan ini didirikan pada era pemerintahan Deandels, gubernur Hindia Belanda, Seorang Napoleonik, dengan mengorbankan nyawa ribuan pekerja paksa pribumi. Jalan ini dibangun dengan maksud menjawab kebutuhan Belanda untuk mengembangkan jalinan komunikasi antara ‘karesidenan-karesidenan’, memperluas wilayah ekonomi, dan mungkin yang paling penting untuk memudahkan aktivitas pengamanan terhadap aksi-aksi pemberontakan di beberapa daerah tertentu di Pulau Jawa (Kusno;2007).

Dengan ideal-ideal yang sepenuhnya bertumpu pada pembangunan imperium kolonial inilah jalan raya dibangun. Rel kereta api didirikan. Dan dalam waktu bersamaan, di satu sisi  kontrol negara kolonial atas kemungkinan-kemungkinan resistensi dari rakyat jajahan atas aktivitas modal kolonial dijalankan, dan di sisi lain rakyat negeri jajahan terus memanfaatkannya untuk kepentingan-kepentingannya sendiri. Dalam Engeener Of Happy Land (2006;17) Rudolf Mrazek  menyebutkan aktivitas pribumi di jalan raya dan instrumen transportasi modern seperti kereta api ini adalah sebentuk ‘optimisme jalanan’. Ungkapan ini dikemukakan berdasarkan apa yang ditangkap Mrazek dari semangat dan ketidak-canggungan masyarakat pribumi memanfaatkan instrumen baru modernitas yang diimpor langsung dari Eropa ini, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan berjejaring membangun gerakan.

Karena itu, Mrazek menganggap kontrol yang hendak dijalankan dengan membangun jalan raya tidaklah hanya menjadi efektif bagi kolonial tetapi juga berhasil dimanfaatkan dengan tepat oleh rakyat negeri jajahan sendiri. Mrazek mengungkapkan (2006; 21) ‘jalan-jalan modern di Hindia Belanda, selain banyak hal hebat yang dilakukannya, sejak awalnya menjadi medan pertempuran dan ruang dimana orang-orang Belanda di koloni itu jelas-jelas tidak pasti tentang diri mereka sendiri’.Buku Mrazek ini diakhiri dengan semacam kesimpulan bahwa ‘sarana-sarana produksi’ dan ‘mekanisme kontrol’ yang diciptakan sendiri oleh negara kolonial telah sukses disubversi oleh kepentingan  rakyat pribumi jajahan koloni tersebut.

Abidin Kusno (2007) mengungkapkan mengenai jalan raya pos: ‘Di sinilah mulanya, Belanda melalui Deandels menggunakan kontrol teritori sebagai bagian dari strategi memerintah Jawa. Dan melakukan pelembagaan ide mengenai batas wilayah dengan cara membagi wilayah-wilayah Belanda di Jawa ke dalam ruang-ruang yang terdemarkasi secara tajam yang disebut ‘keresidenan’. Ia lantas menghubungkan wilayah-wilayah karesidenan ini dengan sebuah jalan raya yang disebut jalan raya pos besar atau groote postweg pada 1908’.

Capaian Jalan Raya

Sebagai alat kontrol politik dan ekonomi kolonial, jalan sejauh ini cukup berfungsi dengan baik di samping hambatan-hambatan historisnya berupa subversi dari kaum pribumi sendiri. Sebagai sebuah mekanisme kontrol, misalnya, jalan raya telah berhasil meringkaskan jarak efektif dari seluruh pelosok Jawa. Dengan ini, tentu aparat kolonial lebih leluasa dan dapat bergerak cepat memobilisasi kekuatan bila sewaktu-waktu terjadi pemberontakan di daerah-daerah yang rentan resistensi terutama di daerah-daerah dimana ada perkebunan-perkebunan besar Belanda. Argumentasi ini bisa didukung dengan fakta bahwa kolonial, sejak adanya jalan maupun rel kereta api, masih mampu menancapkan kuku imperialismenya selama lebih dari satu abad setelahnya. Argumen ini mungkin terlalu mensimplifikasi proses historis keberlangsungan kolonial di Indonesia. Tetapi paling tidak dengan adanya jalan ini, kota-kota kolonial yang menjadi pusat kaum pergerakan dengan cukup maksimal dapat dikontrol (bahkan kemudian ditumpas) pada batas-batas yang ditentukan.

Secara kultural, efek jalan raya, sebagaimana Mrazek menggambarkan, hadirnya jalan telah mengubah pandangan dan telah melahirkan irisan-irisan baru pengetahuan pribumi mengenai modernitas yang dikampanyekan barat. Datangnya kereta, mobil dan motor misalnya telah melahirkan diskursus pemaknaan baru mengenai jalan raya. Keberhasilan kultural lainnya, yang menunjang kesuksesan lain kolonial di bidang ekonomi, adalah semakin dekatnya jarak antara daerah kota dan desa-desa di Jawa sehingga memudahkan transformasi dari relasi sosial feodalistik menuju relasi sosial yang kapitalistik. Sebagaimana dicatat oleh Razif (2005;11) ‘dengan dibukanya perkebunan-perkebunan besar, pertambangan minyak yang dipelopori perusahaan patungan Inggris dan Kerajaan Belanda Royal Dutch Shell Oil  Company, ini mengakibatkan semakin meresapnya hubungan-hubungan sosial produksi kapitalis hingga ke desa-desa, terutama setelah dibangunnya jalan-jalan raya, pelabuhan modern dan jalan-jalan kereta api.

Secara ekonomis tentu jalan raya ini akan melipatkan proses akumulasi dengan menekan biaya angkut dan transportasi dari perkebunan-perkebunan ke pusat-pusat kota kolonial dan perluasan pasar-pasar bagi hasil-hasil produksi kapitalis. Bagi David Harvey (2009;104), ini adalah bentuk dari akomodasi-akomodasi kapital terhadap kemungkinan krisis over produksi di lokasi dimana kapital memiliki ruang gerak pasar yang makin menyempit. Dengan membuka kemungkinan-kemungkinan pasar baru bagi produksinya, kapital telah membuka jalan-jalan baru bagi peningkatan jangkaun produksi dan perluasan pasar.

Dengan kenyataan ini maka relasi-relasi sosial kapitalis yang memang diharapkan oleh kapitalisme kolonial telah lahir bersamaan dengan gerak spasial perluasan modal dengan terciptanya pasar-pasar baru yang dihubungkan dengan efektif oleh jalan-jalan raya. ‘Transformasi besar’ ke arah relasi sosial kapitalistik ini tentu bukan hanya karena ada jalan raya, tetapi, jalan raya menjadi satu dari beberapa instrumen ekonomi politik utama berhasilnya kerja kapital.

Berlawan di Jalan Raya

Akhirnya, dengan gambaran lebih metaforik Kartini mengungkapkan tanggapannya mengenai jalan sebagai segugus capaian ‘jalan-jalan baru di seluruh Jawa dan di seluruh jajahan haruslah terbuat dari kemajuan, dan, sejauh jalan itu terbuat dari bahan yang keras dan bersih, tak ada sesuatupun yang dapat menghentikan roda-roda itu (2007;14)’. Mungkin ‘roda-roda’ di sini bagi Kartini adalah roda-roda ekonomi kapitalistik yang cukup sukses melaju tanpa hambatan di atas jalan raya yang ‘keras dan bersih’ sebagaimana metafor Kartini. Mungkin kisah pemberontakan Petani Banten di awal tulisan ini adalah semacam kerikil kecil yang mudah dipecahkan oleh roda-roda kapitalisme. Atau sebagaimana diungkapkan oleh Takashi Shiraishi (2004;244) dalam Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat Di Jawa Tahun 1926, bahwa ‘dari Semarang, kota yang tepat dibelah oleh jalan raya pos besar itu, pengaruh komunis menyebar ke sekitarnya dan di kota-kota kecil sepanjang jalur yang dilalui kereta api – Pati, Demak dan Purwodadi di Timur; ke Salatiga, Boyolali dan lebih jauh ke Madiun dan Nganjuk di Selatan; dan ke Pekalongan, Brebes, Tegal dan Cirebon di Barat. Ini juga hanya semacam kerikil kecil. Hanya semakin lama kerikil-kerikil kecil ini makin banyak dan mungkin dapat memelesetkan ‘kapital’ yang melaju di atasnya.

Dahulu, dari sejumlah uraian historis di atas dapat dilihat bahwa jalan raya yang beriringan dengan proses berlangsungnya kerja kapital telah menjadi ‘ruang perebutan’ antara kapital dan elemen pergerakan. Maka tak berlebihan dan tak ahistoris kalau mahasiswa, tani, buruh dan elemen gerakan sosial lainnya kini di banyak penjuru -di tengah cibiran sinis politisi, gerutu kaum modal, tertawaan akademisi usang di kampus-kampus dan kucilan media- menyeru kita: occupy jalan raya! Riuh rendah, seruan semacam ini terus terdengar, terus menyebar. Menjadi semacam pertanda: senjakala kapital. Saya percaya.

Penulis, adalah pustakawan di rumah buku carabaca Makassar. Sedang merampungkan riset  mengenai ekonomi politik jalan raya.

Kapitalisasi Pendidikan

“Kapitalisasi Pendidikan”

 

neoliberalisme adalah sistem ekonomi-politik yang mementingkan kebebasan ekonomi dan demokrasi politik. Dalam artian neoliberalisme adalah sistem komplit yang tidak dapat dipisahkan antara kenyataan politik dan fakta-fakta ekonomi. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Lantas, apa masalahnya kalau kepentingannya hanya dua itu? Karena kebebasan menurut neoliberal adalah di ambilnya peran negara untuk mengelola ekonomi oleh kuasa pasar. Ini artinya pasar telah mengkudeta kekuasaan negara untuk mengatur ekonomi masyarakatnya.(muhammad ridha, 2010)

Lantas apa hubungan neoliberalisme dengan dunia pendidikan? pemerintah memasukkan bidang pendidikan ke dalam kategori masalah sosial. Maka, ipso facto, pendidikan terkena imbas dari politik yang dimaksudkan oleh neoliberalisme. Konsekuensinya, jelas, negara tak lagi memberi subsidi pendidikan secara penuh kepada setiap perguruan tinggi negeri. Meski masih berstatus sebagi lembaga nirlaba, perguruan tinggi negeri diberi kebebasan untuk mencari sumber-sumber pendapatan legal untuk menutup kekurangan belanja (otonomi perguruan tinggi). Dalam hal ini, negara cuma memberikan sumbangan dalam bentuk blockgrant yakni subsidi di mana negara hanya memberikan sekian persen dari total pembiayaan perguruan tinggi.

Ideologi yang saat ini sedang mendominas dunia terhusus di indonesia ialah sistem kapitalisme karena pengaruhnya yang besar dalam kehidupan masyarakat modern. Apa yang dilahirkan dari rahim kapitalisme adalah culture of positivism dan rasionalitas teknokratik/instrumental, satu bentuk budaya dan model berpikir yang berpengaruh atas laju arah pendidikan. Karena ilmu yang sampaikan kepada peserta didik dalam budaya ini adalah ilmu yang mengorientasikan mereka untuk beradaptasi dengan dunia masyarakat industri. Proses pembelajaran pun ditekankan pada upaya untuk mengakumulasi dan memiliki ilmu pengetahuan yang ditujukan untuk mengejar profit, dan membentuk sebuah relasi sosial yang kapitalistik dan pragnatis

basis dari gerak sejarah sistem pendidikan dunia ditentukan oleh kapital (modal). Teori ini disebut dengan determinisme ekonomi. Tampaknya, ramalan Marx itu benar, khususnya di Indonesia. Buktinya, regulasi kebijakan pendidikan pemerintah, dalam hal ini UU PT, tidak lain merupakan penjelmaan perselingkuhan antara dunia pendidikan dengan kepentingan kapital. RUU PT membuka akses bagi praktek kapitalisme di bidang pendidikan. Lembaga pendidikan saat ini tidak lagi menjadi media transformasi nilai dan instrumen memanusiakan manusia, melainkan menjadi lahan basah bagi para pengelola pendidikan untuk mengeruk keuntungan dari peserta didik.

Status birokrat kampus, Rektor dan para stafnya tidak ubahnya pelayan kapital yang hanya memikirkan bagaimana kampus bias mendapatkan laba sebesar-besarnya dari peserta didik. Institusi pendidikan saat ini tidak jauh beda dengan pasar. Bedanya, kalau pasar menjual bahan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan rumah tangga yang lain, maka perguruan tinggi menjual jasa pendidikan. Mulai dari tenaga pengajar, mata kuliah, sampai fasilitas-fasilitas kampus yang super canggih. Dalam kondisi seperti ini, lembaga pendidikan layaknya korporasi yang hanya memikirkan profit. Tidak heran, kalau makin hari biaya lembaga pendidikan kian melonjak. Dan makanya harus di lawan !!!

 

Potolo DG. Bundu

Sekolah : Mesin Reproduksi Kelas Sosial

 

 

 Sekolah : Mesin Reproduksi Kelas Sosial 

Oleh : Marhain Sastroguna*

 

Pendidikan adalah proses pembebasan                                                                                               dan pendidikan adalah proses membangkitkan kesadaran kritis.                                                           (Paulo Freire 1921 – 1997)

Telah menjadi keyakinan mayoritas masyarakat (Common Sense) bahwa setiap individu yang ingin meraih kesuksesan dan terlepas bebas dari belenggu kemiskinan, maka keharusan baginya untuk menempuh jalan pada sebuah dunia yang bernama pendidikan. Keyakinan akan dunia pendidikan itu direduksi sedemikian rupa oleh struktur dan sistem sosial sehingga menyisakan peyempitan makna terhadapnya, yakni menempuh jalan pendidikan berarti bersekolah. Sekolah dipahami tidak hanya sebagai tempat mengenyam pendidikan, menuntut ilmu, dan memancangkan jenjang anak tangga setinggi cita-cita itu digantungkan –seperti yang ‘disuntikkan’ para guru ke dalam tempurung kepala muridnya– sedari awal bersekolah, melainkan ia lebih dari itu, ia adalah refleksi atas relasi sosial yang hidup dalam masyarakat. Relasi sosial adalah hubungan interaksi dalam masyarakat, hubungan interaksi ini tidak lain sebagai medium sekaligus modus pemenuhan kebutuhan hidup (Mode of Production) yang dalam konteks kejayaan kapitalisme saat ini ditandai dengan : adanya  di satu sisi orang yang menjual tenaga kerjanya demi pemenuhan kebutuhan hidup, sementara di sisi lain terdapat orang yang hanya dengan modalnya (capital-money) tanpa pengerahan otot dan pencucuran keringat (work) ia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup melainkan ia juga mampu mengakumulasinya. Sisi pertama disebut dengan kelas pekerja sedangkan yang kedua disebut kelas kapitalis. Penjelasan inilah yang oleh Karl Marx (1818 – 1883) dicetuskan sebagai teori dan analisa kelas sosial (Mansour Fakih, 2011:2).

Lalu, apa hubungan antara pendidikan dengan kelas sosial ?. Senada dengan penjelasan di atas, bahwa relasi sosial dalam dunia pendidikan adalah cerminan nyata atas relasi sosial dalam masyarakat, hal ini dipengaruhi oleh dominasi relasi sosial kapitalistik dalam masyrakat dunia (Global Capitalism) yang telah berhasil merenggut seluruh aspek kehidupan, pendidikan pun tak luput dari itu. Konsekuensinya, ideologi kompetisi dan budaya positivisme (Culture Positivism) tumbuh dan berkembang dalam dunia pendidikan. Ideologi kompetisi yang dimaksud di sini ialah lahirnya paradigma dan sikap individualistik dalam diri peserta didik yang mempersyaratkan persaingan, persaingan ini menghasilkan dua pilihan yang mau tak mau ataupun suka tak suka peserta didik harus memilih; menang atau kalah. Seolah telah menjadi takdir Tuhan bahwa yang menang adalah peserta didik yang sejak awal masuknya memiliki kekuatan ekonomi dan kelas sosial yang tinggi sedangkan yang kalah adalah ia yang sejak awal masuknya lemah dan tertindas. Potret ketidakadilan pun menampak dalam kompetisi ini, logikanya; mampukah peserta didik miskin bersaing dan mengalahkan peserta didik yang kaya ? tentunya tidak ! sebab persoalan gizi dan nutrisi yang menunjang kesehatan berpikir, pembayaran sekolah yang tidak murah, serta fasilitas dan teknologi canggih pengakses ilmu pengetahuan telah lebih dulu dimiliki oleh si kaya. Akhirnya, si miskin yang setelah bersekolah tetap menjadi miskin dan si kaya yang setelah bersekolah juga tetap pada posisi awalnya. Bahkan bisa jadi yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan budaya positivisme sebagai dampak kapitalisme global ialah lahirnya cara pandang peserta didik yang memahami realitas sosial separti ia memahami determinisme alam semesta melalui prinsip-prinsip ilmu positivistik. Akibatnya, fakultas akal peserta didik kehilangan sikap kritis dan tidak mampu memandang dalam konteks sosio-historis perkembangan realitas sosial. Selain itu, ia telah menjadikan ilmu yang didiseminasikan kepada peserta didik sebagai  ilmu yang mengorientasikan mereka untuk beradaptasi pada dunia masyarakat industri (Market Oriented) , tentunya dengan mengorbankan aspek critical subjectivity, yaitu kemampuan untuk melihat dunia secara kritis” (M. Agus Nuryatno, 2011:57). Pengorientasian pada masyarakat industri berakibat pada paradigma peserta didik yang beranggapan bahwa “sekolah untuk kerja” sedangkan pengorbanan potensi  kesadaran kritis peserta didik akan berujung pada sikap fatalistik dalam menghadapi kehidupan seraya bungkam dalam ketertindasan, realitas sosial yang terdiri dari kelas, relasi, struktur, dan sistem sosial senantiasa diterima apa adanya dan menganggapnya senantiasa dalam keadaan baik-baik saja. Tanpa pemiskinan, tanpa penistaan, dan tanpa penindasan manusia atas manusia.

Adapun pandangan Peter Mclaren yang mengemukakan tiga dampak kapitalisme global terhadap dunia pendidikan : pertama, terciptanya praktek-praktek pendidikan yang lebih mendukung kontrol ekonomi oleh kelas-kelas elit. Kedua, orientasi ilmu pengetahuan yang diberikan hanyalah untuk mengejar keuntungan material belaka (profit oriented). Dan ketiga, kapitalisme telah berhasil menciptakan fondasi ilmu pengetahuan yang berlandas pada nilai-nilai korporasi seraya menafikan nilai-nilai keadilan soial-ekonomi dan humanitas. Singkatnya, semua dampak yang tersebut di atas hanya akan mereproduksi secara massif kelas sosial yang sama dan melanggengkan status quo kelas dominan; yang kuat semakin menindas yang lemah, yang kaya semakin memarjinalkan yang miskin, dan yang bermodal juga semakin eksploitatif terhadap pekerjanya. Dan seterusnya berulang, dan seterusnya. Akhirnya, pendidikan yang sebenarnya sebagai proses pembebasan atas pemiskinan, penistaan, dan penindasan telah dilumpuhkan oleh kekuatan kapitalisme global, mitos pendidikan yang diyakini oleh mayoritas masyarakat pun mulai terbongkar, dan sekolah tidak lebih dari seonggok mesin yang terus menerus memproduksi komoditi yang sama; kelas sosial, dengan segenap ketidakadilan dan  dehumanisasi di dalamnya.

 

*Penulis adalah pribumi Indonesia yang selalu bermimpi tentang negaranya, memimpikan Indonesia yang memperlakukan seluruh warga negaranya sebagai manusia seutuhnya…..

 

Ooh.. indonesia ku.

Ooh.. indonesia ku.

Terimakasih akan tanahmu yang subur

tapi kenapa sekarang ini kami jarang lagi kita melihat padi yang tumbuh menghijau di atas tanahmu, tapi tanah mu yang subur kini tumbuh pabrik-pabrik, rumah-rumah mewah

kenapa kau pisahkan para petani dengan sarana produksinya

kenapa engkau biarkan mereka beralih pekerjaan menjadi buruh-buruh dengan upah yang rendah

orang-orang yang memiliki modal tidurnya semakin nyenyak di perumahan-perumahan elite, tapi sebaliknya mereka yang miskin semakin terpinggirkan di sudut-sudut kota

apakah ini yang di katakan pembangunan kalau rakyat kecil yang selalu jadi korban.

 

Minorinc

KAPITALISME DAN REPRODUKSI IDEOLOGI

KAPITALISME DAN REPRODUKSI  IDEOLOGI

Oleh: thalib youmans

          Di dalam masyarakat yang menggunakan sistem kapitalis seperti sekarang ini, dapat dengan sangat mudah kita ketahui, seperti terjadinya kesenjanagan sosial antara orang kaya dan orang miskin. Namun, apa yang terjadi hari ini apakah itu adalah takdir dari tuhan atau dari sejarah masa lalu yang telah dikonstruksikan oleh manusia?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentunya kita akan kembali kepada ratusan tahun yang lalu dimana ketika sebuah sebuah gerakan besar yang terjadi diinggris dan francis pada tahun 1719 yang lebih dikenal sebagai revolusi industri. Dimana pada saat itu sistem kerajaan atau feodal diruntuhkan dengan gerakan kaum budak yang didukung oleh kekuatan besar para pemilik modal atau kapital yang di batasi ruang geraknya oleh kerajaan/negara. Disamping itu kebosanan para budak dengan sistem tersebut yang sesuka perutnya sang raja beserta kelompoknya menjadikan para budak sebagai pelayan yang setia dan patuh pada keputusannya dan hanya mendapat imbalan yang jauh dari kata cukup.

Itulah sejarah singkat proses perebutan kekuasaan dan proses produksi yang dilakukan oleh kaum budak yang ditunggangi para kapitalis dengan konsep penghapusan sistem perbudakan yang kemudian diganti dengan sistem penggunaan tenaga kerja upahan/gaji.

KAPITALISME?

          Kapitalisme… kata yang mungkin sudah sebagian penduduk dunia ketahui, Tapi apakah kita sudah paham cara kerja dari sistem yang lebih dikaitkan dengan ekonomi ini? Penulis akan coba jelaskan secara singkat, sesuai dengan kemampuan.

Dalam sistem produksi kapitalis, yang memiliki tujuan mencari keuntungan atau profit motif, dengan cara apa pun, seperti eksploitasi buruh, akumulasi kekayaan/kapital dan ekspansif, Kecuali cara-cara yang baik (Marx:Kapital Jilid I Hal.807). Eksploitasi buruh adalah salah satu cara yang dilakukan para kipatalis  untuk menjalankan proses produksinya. Atau yang juga dikenal dengan istilah pencurian nilai lebih. Lantas, bagaimana cara kerja eksploitasi tersebut? Contohnya; kerja lembur, dimana para buruh bekerja di atas waktu kerja rata-rata, misalnya waktu kerja dalam sehari adalah 8 jam, tetapi entah karena kebutuhan pasar akan produk atau komoditi yang diproduksinya, para kapitalis harus mempekerjakan lebih buruh mereka, dengan tambahan sedikit upah atau gaji. Akumulasi kekayaan/ kapital adalah proses pelipatan modal awal menjadi tumpukan kekayaan. Nah, bagaimana kapitalis memperolehnya? Salah satu caranya adalah dengan eksploitasi buruh yang sudah dijelaskan secara singkat di atas. Atau dengan cara penjualan produk/komoditi mereka dengan  hegemoni dan ketergantungan kita akan produk mereka. Contonya, produksi pakaian, dimana mereka terus menciptakan pakaian yang terbaru yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan kita, yang membutuhkan pakaian karena untuk melindungi badan kita dari kedinginan, menutup bagian tubuh atau dalam bahasa ketimuran aurat yang menurut kita tidak pantas untuk diperlihatkan kepada orang lain. Akan tetapi, mereka membuat kita bagaimana supaya menggunakannya. Melalui media massa, dimana mereka memperlihatkan bahwa produk baru itu indah dan wajar-wajar saja untuk digunakan, tampa memperhatikan aspek sosiobudaya kita. Dan masih banyak contoh-contoh kasus yang bisa kita lihat sendiri seperti; makanan cepat saji, teknologi, dll. Ekspansif adalah suatu cara kerja kapitalis untuk bagaimana mereka memperluas wialayah kekuasaan dan jajahan mereka. Contohnya; pembelian wilayah persawahan atau pertanian oleh pihak-pihak kapitalis kepada para petani dengan harga semurah mungkin untuk dijadikan tempat produksi baru. Seperti yang terjadi di samata, kab. Gowa, diaman para petani menjual tanahnya kepada perusahaan untuk dijadikan tempat perumahan-perumahan elit.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana para kapitalis terus mempertahankan dominasi dan perputaran kapital mereka? (bersambung ke edisi berikutnya)………