Lelucon

Lelucon

 

Asmara indah bagaikan bunga tak redup harumnya

Jatuh cinta tak terasa jika badai pun datang menghantam

Lelucon pendek di anatra dua insan yang sedang terajut

Beginilah kisahnya yang terdengar di antara kita dan kalian.

 

Bicara masalah lelucon itu,

Teruslah tertawa terbahak-bahak dengan lelucon itu

Seiring zaman berganti,

Tetap terbukti alunan lelucon itu tak pernah tergantikan

Tak di dustai, banyak yang suka banyak yang bahagia.

 

Kau tahu, kawan!!

Sampai detik-detik ini,

Teriakan-teriakan di sana tak pernah enyah

Hingga tahun-ketahun bergulir, dengan janji-janji para penguasa

Teriakan demi teriakan terus bertambah, terus terdengar semakin keras,

Semakin keras.

 

Apa yang bias kami lakukan. Apa yang dapat kami perbuat.

Apakah itu. Apakah lelucon itu dapat mengobati kisah-kisah mereka.

Apakah lelucon indah bagaikan bunga yang tak pernah redup harimnya itu.

Apakah kami dapat mengobati tangisan, teriakan, ratapan mereka.

Apakah biasa. Dengan lelucon itu. Apakah yang kami lakukan dengan lelucon itu.

 

Tuhan ku, tuhan ku. Hamba mu ini sedang turun ke jalan.

Tuhan ku, yang tak lelah dan berhenti mendengar dan melihat hamba mu ini

Hambamu ini marah dengan ketidak tahuan kemarahan ini akan hal apa.

Tuhan ku, tuhan kami.

Masihkah suara kami dapat melumpuhkan para penguasa jahannam itu.

Lelucon itu ada, dan amarah kami pun ada.

Dan kami tau, akan buaian lelucon itu.

Dan kami tau, lelucon itu hanyalah hal kecil yang menghalang amarah ini.

Dan kami mengakui, lelucon yang sering kami nikmati.

Akan lebih berbahaya untuk para penguasa,

Bila lelucon ini berisi cairan racun pelumpuh para penguasa jahannam.

‘Tetaplah Bersatu Kawan’ ‘Karna Revolusi Mu, Belum Berakhir’.

 Solikin mar’i

Leave a comment